Take a fresh look at your lifestyle.

Bencana Alam dan Performa Sumatera Barat 2025

Oleh : Rudy Rinaldy (Kepala Dinas Kominfotik Sumatera Barat) Yosi Suryani (Dosen Politeknik Negeri Padang)

0 108

Padang, majalahintrust.com – Penghujung tahun 2025 yang lalu merupakan salah satu penghujung tahun yang menyedihkan buat Sumatera Barat, padahal duka yang mendalam akibat bencana sejenis tahun 2024 yang lalu masih ada.

Tanggal 7 dan 8 Maret, kemudian disusul tanggal 10 dan 11 Mai tahun 2024, adalah dua peristiwa kejadian bencana alam yang masih segar dalam ingatan kita. Ekonomi Sumatera Barat ketika itu masih tertatih-tatih mengejar ketertinggalan dan sedang berupaya bangkit sambil melawan serangan inflasi.

Belum pulih dari luka dan duka tersebut, kembali Sumatera Barat didera bencana alam hidrometeorologi dengan skala yang lebih besar. Namun kali ini Sumatera Barat tidak sendirian menghadapi bencana alam tersebut.

Provinsi Sumatera Utara dan Aceh juga menutup tahun 2025 dengan kesedihan. Bencana alam di 3 Provinsi di Sumatera ini yang menewaskan lebih dari 1.000 orang, sekali lagi menegaskan bahwa kita masih tidak terlalu peduli dengan upaya mitigasi bencana alam, terlepas dari bencana alam itu terjadi akibat kelalaian kita bersama.

Di Sumatera Barat bencana alam ini menyebabkan 264 orang meninggal dunia, 72 jiwa hilang, dan lebih dari 10.000 orang mengungsi, di 16 Kabupaten/Kota terdampak.

Korban meninggal terbanyak terjadi di Kabupaten Agam (194 orang dan 38 orang hilang), kemudian Kabupaten Padang Pariaman (35 orang), disusul Kota Padang Panjang (17 orang dan 29 orang hilang) dan Kota Padang (11 orang dan 2 orang hilang).

Total kerusakan dan kerugian akibat bencana alam ini lebih dari Rp. 33 Trilyun (sumber : Bappeda dan BPBD Provinsi Sumatera Barat). Kabupaten Agam menderita kerusakan dan kerugian yang paling besar (sekitar Rp. 10,49 Trilyun), lalu Kabupaten Padang Pariaman (sekitar Rp. 5,48 Trilyun), dan Kota Padang (sekitar Rp. 4,88 Trilyun).

Untuk itu semua dan berdasarkan dokumen hasil kajian Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P) Hidrometeorologi Provinsi Sumatera Barat, diperlukan alokasi anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi sebesar sekitar Rp. 21,4 Trilyun.

Salah satu diferensiasi bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat kali ini adalah tertutupnya kembali jalur utama Padang – Bukittinggi di Lembah Anai. Tertutup totalnya jalur ini selama kurang lebih 9 hari menyebabkan tekanan yang luar biasa pada jalur Sitinjau Laut karena pada saat yang bersamaan jalur Malalak juga tidak bisa dilewati karena tertimbun tanah longsor.

Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat telah mencoba menganalisis dengan menghitung kerugian yang dialami dari sisi transportasi akibat terputusnya jalur ini. Hasilnya, kerugian yang ditimbulkannya mencapai sekitar Rp. 21 Milyar per-hari.

Kerugian ini belum termasuk puluhan restoran dan toko serta aktifitas ekonomi lainnya di Kota Padang Panjang dan sekitarnya yang tidak melakukan transaksi.

Bencana yang dialami oleh Provinsi Sumatera Barat kali ini sudah dapat dipastikan berpengaruh besar terhadap sendi-sendi perekonomian secara keseluruhan. Salah satunya sesuai dengan rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat pada awal bulan Januari yang lalu, dimana tingkat inflasi Sumatera Barat bulan Desember 2025 mencapai angka 5,15%.

Pada tahun 2024 yang lalu angka inflasi kita cenderung tinggi pada bulan-bulan awal sampai dengan bulan Juni, yaitu rata-rata sekitar 4,00%. Lalu kemudian melandai mulai bulan Juli dan terus turun sampai dengan bulan Desember (0,89%).

Kondisi yang berbeda kita alami pada tahun 2025 yang lalu. Melandai pada bulan-bulan awal (kecuali bulan April sktr 2,38%), angka inflasi kita terus naik dan mencapai puncaknya pada bulan Desember 2025 yang lalu.

Demikian juga dengan kinerja perdagangan (ekspor dan impor). Sebenarnya kinerja ekspor Sumatera Barat tahun 2025 relatif baik dibandingkan dengan tahun 2024.

Pada periode Januari – Oktober 2025, nilai ekspor kita meningkat sebesar sekitar 22,66% (US $ 2.458,14 juta) jika dibandingkan dengan tahun 2024 (US $ 2.004,05 juta). Namun volume ekspor bulan November 2025 turun drastis sebesar -46,79% (atau hanya sekitar US $ 117,20 juta) jika dibandingkan dengan bulan November tahun 2024 (US $ 220,26 juta).

Pada saat yang bersamaan justru nilai impor kita bulan November 2025 malah makin naik tajam. Pada periode Januari – Oktober 2025 nilai impor kita naik sekitar 15,55% (US $ 530,17 juta) jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024 (US $ 458,83 juta). Kemudian nilai impor naik lagi menjadi sekitar 39,73% pada bulan November 2025 (US $ 66,30 juta) jika dibandingkan dengan bulan November 2024 (US 47,45 juta).

Bencana hidrometeorologi yang baru saja kita alami memberikan begitu banyak pelajaran yang sangat berharga. Apalagi penanganan pasca bencana sejenis tahun 2024 yang lalu belum tuntas. Perekonomian kita masih tertatih-tatih walau sebagian indikator bersifat anomali yang menggambarkan sebaliknya.

Kita patut bersyukur dengan gerak cepat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang dibantu oleh semua stakeholders dalam merespon dan menanggulangi bencana yang dinilai sangat baik oleh banyak pihak, termasuk oleh Pemerintah Pusat.

Tetapi sebenarnya bukan disitu letak titik krusialnya, melainkan pada sisi dimana kita masih abai dalam program mitigasi bencana. Orientasi kita baru sebatas merespon, dari pada menyiapkan program-program untuk mengantisipasinya.

Sebagian angka-angka statistik ekonomi di atas mungkin akan menjadi lebih buruk lagi beberapa waktu ke depan karena begitu banyak sentra-sentra produksi pertanian yang terdampak.

Kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap PDRB Sumatera Barat tahun 2024 yang lalu sebesar 21,18% (setara Rp. 31,44 T), mungkin akan terkoreksi mengingat begitu luasnya lahan pertanian yang terdampak saat ini.

Demikian juga halnya dengan kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 16,82% (setara Rp. 24,96 T), akan terkontraksi juga sesuai dengan kinerja ekspor impor yang telah disampaikan diatas.

Fenomena alam tidak akan pernah berubah dimana bencana alam selalu akan terjadi. Kita berharap tahun 2026 ini cuaca ekstrim tidak seganas pada tahun-tahun sebelumnya dan kita harus segera mengambil langkah nyata menyiapkan program mitigasi bencana. Struktur anggaran yang kita susun harus berorientasi kepada pencegahan dan mengantisipasi, bukan hanya dialokasikan untuk merespon kejadian bencana.

Kerusakan dan kerugian yang kita alami puluhan trilyun mungkin dapat kita cegah seandainya puluhan milyar dialokasikan untuk program-program mitigasi yang juga dikenal dengan istilah silent work.

Mitigasi bencana adalah kerja sunyi dan keberhasilannya tidak terlihat. Banyak yang beranggapan bahwa program mitigasi adalah pekerjaan yang sia-sia dan program yang tidak perlu. Padahal sesungguhnya program mitigasi bukan spending money (belanja), melainkan investasi.

Ekonom John Maynard Keynes mengatakan bahwa Pemerintah berperan penting dalam mengatur kegiatan ekonomi, terutama dalam situasi krisis. Teori ini relevan dengan kondisi kita saat ini dimana di dalam struktur anggaran agar lebih berpihak kepada upaya pencegahan agar kita tidak menderita kerusakan dan kerugian yang lebih besar lagi pada masa yang akan datang. ***

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.