Padang, majalahintrust.com – Kerja keras segenap karyawan Perumda Air Minum Kota Padang dalam menangani dampak bencana banjir bandang di Kota Padang diapresiasi oleh DPW Relawan Prabowo (Repro) Sumatera Barat.
Pasalnya sudah 98 persen perusahaan air minum pelat merah tersebut berhasil memulihkan jaringan air serta memperbaiki intake air yang rusak, karena dihondoh banjir bandang.
“Sangat perlu kita apresiasi Perumda Air Minum Padang yang sudah bekerja keras memulihkan jarigan dan memperbaiki intake. Siang dan malam mereka bekerja, sehingga air bisa teraliri ke rumah pelanggan,” kata Ketua Repro Sumbar Roni didampingi Ketua Repro Padang Hendra Satria dan Sekretaris Repro Padang Ridho Syarlinto.
.
Meskipun ada sejumlah pihak yang masih memandang skeptis kerja keras mereka, namun Roni menilai hal tersebut juga tidak perlu dibesar-besarkan. Karena masalah air bersih untuk warga Kota Padang tidak hanya tanggung jawab Perumda Air Minum Padang semata. Namun merupakan tanggung jawab semua stakeholder yang berhubungan dengan infrastruktur pengairan .
Karena akibat banjir bandang itu yang rusak bukan hanya intake dan pipa PDAM, akan tetapi juga kerusakan pada hulu sungai,fasilitas jaringan irigasi, serta kerusakan pada tepi tepi sungai. Kerusakan parah itulah yang menyebabkan warga Padang kekeringan.
” Jangan hanya bola panas hanya dilemparkan ke PDAM dan Pemko saja. Tapi bagaimana kita selesaikan dengan kepala dingin menyikapi krisis air bersih ini. Kita juga apresiasi seluruh balai-balai di Kementerian PU yang juga telah bekerja keras. Sebenarnya tak patut ada yang dipermasalahkan, karena semua sedang berproses mengerjakan tanggung jawab masing-masing,” ucap Roni
Hendra Satria juga menambahkan, kebutuhan air bersih di Kota Padang semakin meningkat. Salah satu tolok ukur pembuktiannya adalah dengan semakin bertambahnya jumlah pelanggan Perumda Air Minum Kota Padang.
Jika ditarik ke belakang, tepatnya lima tahun lampau, Perumda Air Minum Kota Padang memiliki 98.000 pelanggan, di antaranya 84.000 pelanggan aktif dan 14.000 pelanggan non aktif. Sementara di tahun 2020 ini total pelanggan sudah mencapai 125.000 dengan pelanggan aktif 109.000 dan 16.000 pelanggan non aktif.
Saat ini saja, sudah banyak faktor yang menyebabkan debit air mulai berkurang. Seperti ketersediaan air baku yang masih harus berebut dengan masyarakat. Ini terjadi dalam pemanfaatan sumber air baku di Guo Kuranji yang harus berebut dengan masyarakat setempat untuk kebutuhan pertanian.
Kemudian juga karena banyaknya kegiatan pembalakan hutan secara besar -besaran, membuat hulu sungai yang biasanya ditumbuhi pohon yang rindang, bakal kehilangan daya untuk memainkan peranan sebagai cadangan sumber air.
Gundulnya hutan juga membuat air hujan dengan intensitas sedang maupun tinggi tidak tertahan di hulu, sehingga air langsung ke bawah. Ketika musim kemarau, sumber air pun mengering. Akibatnya pasokan air bersih tak sampai ke masyarakat.
Belum lagi lahan yang dahulunya jadi serapan air di bagian hulu sungai, sudah jadi lahan perumahan masyarakat, pembangunan jalan, serta infrastruktur lain yang membuat serapan air tidak ada lagi.
“Tiga sumber akr baku PDAM mengalami kerusakan parah, yakni di Guo, Batang Kuranji dan di Lubuk Minturun. Nah masalah ini kita carikan solusi jangka panjang agar tidak lagi kekeringan parah, apabila terjadi bencana,” tegas Hendra
Di sisi lain, Ridho Syarlinto juga turut memberikan solusi, dengan cara Pemko Padang, Pemprov Sumbar maupun Anggota DPR RI membantu Perumda Air Minum Kota Padang menjaga dan mengelola sumber air baku dimaksud.
Solusi pertama yakni meminta bantuan ke Pemerintah Pusat untuk membangun bendung, bendungan, embung atau infrastruktur sejenis. Demi menampung air yang mengalir dari sungai-sungai besar di Kota Padang.
Bisa saja melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membangun infrastruktur, karena selaras juga dengan program mereka, yang sedang giat giatnya membangun bendungan berukuran besar. Apalagi sebagai kategori Kota Besar menuju Kota Metropolitan, sudah sepantasnya juga Kota Padang memiliki bendungan.
Kemudian Tindakan reboisasi yang dilakukan perusahaan sebagai upaya preventif agar debit air tetap stabil sudah tepat pada waktu sebelumnya. Hanya saja, intensitasnya belum massif. Oleh karena itu ke depan upaya ini mesti ditingkatkan lagi.
Caranya ialah dengan menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang dan Sumbar untuk membantu reboisasi hutan, menggandeng perusahaan di Kota Padang untuk mengucurkan Dana Corporate Social Responsibility (CSR) supaya dapat melaksanakan aksi penanaman pohon di hulu sungai.
Langkah lainnya adalah, bagaimana Direksi Perumda Air Minum Kota Padang
Perumda Air Minum Kota Padang juga bisa memaksimalkan peran ninik mamak yang kaumnya memiliki tanah ulayat di hulu sungai, agar memelihara dan menjaga kelestarian hutan. Peran alim ulama pun juga tak bisa ditinggalkan, karena melalui ceramah keagamaan, alim ulama bisa menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menebang pohon.
“Tidak kalah pentingnya adalah peranan pemerintah membuat regulasi yang ketat agar penebangan hutan tidak lagi terjadi. Hal ini sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 Pasal 34 menyatakan, tanah, bumi dan air dikelola pemerintah sebesar besarnya untuk kemakmuran masyarakat,” pungkasnya.(rs)