Hangatnya Ilmu bersama Bundo Sastri Bakry

Oleh : Lidia Arista, mahasiswi Universitas Al Azhar Mesir

Kairo, majalahintrust.com – Siang itu, jarum jam baru saja melewati angka satu lewat tiga puluh menit. Udara terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah-olah langit sedang enggan berbagi kehangatan. Namun, cuaca yang meredup tak sedikit pun memadamkan semangat kami.

Hari ini bukan hari biasa. Aku, Kak Anisa, Kak Nidit, Kak Aisyah, dan Naswa sudah membulatkan tekad untuk pergi ke Rumah Gadang (RG) menjemput ilmu dan bertemu dengan sosok Bundo yang sangat luar biasa relasi dan ilmunya di Sekretariat Keluarga Mahasiswa Minangkabau (KMM).

Perjalanan memakan waktu satu jam. Tepat pukul setengah tiga sore, kaki kami menapak di depan sekretariat. Tak lama berselang, kawan-kawan dari Dewan Pengurus KMM, seperti Bang Anca dan rekan-rekannya, datang meramaikan suasana. Di sana, di ruang yang sederhana namun terasa seperti rumah sendiri, kami menanti sosok yang kehadirannya sangat kami dambakan.

Lalu, sosok itu muncul. Sastri Yunizarti Bakry. Sosok yang lebih akrab kami panggil Bundo Sastri. Pertemuan yang mencairkan kebekuan. Wajahnya teduh, mencerminkan pengalaman hidup yang luas sebagai birokrat sekaligus sastrawan besar. Tak ada jarak yang ia ciptakan. Meski ia adalah seorang Widyaiswara Ahli Utama Kementrian Dalam Negeri dan tokoh kebudayaan Minang yang mendunia, ia menyapa kami dengan kehangatan seorang ibu kepada anaknya di perantauan.

“Apa kabar kalian, Anak Rantau?” tanyanya lembut.

Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan dinding kecanggungan. Kami duduk melingkar, saling memperkenalkan diri. Percakapan mengalir deras seperti air sungai yang jernih. Cerita-cerita tentang kehidupan di tanah rantau menjadi bumbu pembuka yang manis. Kami tertawa lepas. Saking serunya, tawa riang kami seolah-olah menjadi perapian imajiner yang mengalahkan dinginnya cuaca di luar sana. Ruangan itu mendadak hangat oleh rasa persaudaraan.

Waktu Ashar tiba, memanggil kami untuk bersimpuh sejenak kepada Sang Pencipta. Setelah kening menyentuh sajadah, aroma yang sangat akrab di hidung mulai menyeruak dari arah dapur. Bau cabai yang ditumis dan gurihnya santan yang menyusut… itu pasti mahakarya Bang Abdul dan kawan-kawannya.

Nostalgia di Atas Sufroh

“Makan sudah siap!” seru Bang Anca. Bang Anca dengan sigap membentangkan segulung sufroh di lantai. Alas makan sederhana itu menjadi panggung bagi hidangan yang akan kami santap. Ini mengingatkan kami suasana kampung dengan cara makan tradisional di Minang yakni bajamba. Bang Fuadi diminta memberikan sepatah dua patah kata sambutan sekaligus memimpin doa.

Lalu, tibalah saatnya. Di depan kami tersaji Samba Lado Tanak. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, seketika waktu seolah berhenti. Rasa pedas, gurih, dan aroma khasnya bukan sekadar memanjakan lidah, tapi juga menyentuh relung hati yang paling dalam. Ada rasa rindu yang mendesak di sana. Gigitan lauk itu terasa seperti pelukan dari orang tua di rumah.

Samba Lado Tanak ini adalah obat rindu paling mujarab yang dimasak dengan penuh cinta oleh Bang Abdul dkk. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya kami sampaikan dalam hati di sela-sela kunyahan.

Literasi dan Jejak Sejarah

Perut kenyang, namun dahaga akan ilmu belum terobati. Setelah makan, suasana menjadi lebih tenang namun mendalam. Bundo Sastri mulai bercerita. Ia mengisahkan perjalanan hidupnya, prestasi yang telah diraih, hingga karya-karyanya yang telah melanglang buana ke berbagai negara.

Namun, bukan kesombongan yang ia bagikan. Bundo mengajarkan kami tentang urgensi literasi. “Menulislah, karena dengan menulis kalian sedang mencetak sejarah. Literasi bukan sekadar membaca buku, tapi cara kita memahami dunia dan meninggalkan jejak bagi kehidupan,” pesannya yang membuat kami tertegun.

Mendengar penuturannya, ada rasa haru yang membuncah. Kami termotivasi melihat bagaimana seorang perempuan Minang bisa begitu tangguh, cerdas, namun tetap sangat rendah hati (humble). Ia adalah bukti nyata bahwa akar budaya yang kuat bisa membawa seseorang terbang tinggi tanpa melupakan tanah pijakannya.

Tanpa terasa, azan Maghrib berkumandang. Kami menunaikan salat berjamaah, lalu kembali melanjutkan obrolan singkat sebelum akhirnya Bundo pamit. Esok pagi, ia harus segera menuju bandara untuk terbang ke Kuala Lumpur. Sebuah jadwal yang padat, namun ia tetap meluangkan waktu berjam-jam untuk kami, para mahasiswa rantau ini.

Ujian di Perjalanan Pulang

Malam makin larut ketika kami akhirnya meninggalkan sekretariat. Kami, para Banat (perempuan), pulang bersama menggunakan bus yang sama. Namun, perjalanan pulang ternyata memberikan “kejutan” tersendiri.

Di tengah jalan yang gelap, bus yang kami tumpangi mengalami kendala teknis. Mesinnya bermasalah. Sopir menginstruksikan seluruh penumpang untuk turun dan pindah ke bus lain. Dalam kepanikan kecil dan dingin yang kembali menyerang, kami berpindah armada.

Keadaan belum membaik. Bus kedua ternyata tidak menurunkan kami di titik yang kami minta. Kami diturunkan di pinggir jalan yang asing, jauh dari tempat tujuan. Kami terpaksa berjalan kaki cukup jauh di bawah temaram lampu jalan. Perasaan takut mulai menyelimuti ketika kami harus menyeberang jalanan besar dengan mobil-mobil yang melaju kencang layaknya peluru.

Setelah perjuangan yang cukup mendebarkan, akhirnya kami mendapatkan angkot. Di dalam angkot yang berguncang pelan. Namun, di balik rasa lelah dan takut karena drama perjalanan tadi, ada senyum kecil di wajah kami masing-masing.

Kami pulang membawa lebih dari sekadar perut yang kenyang. Kami membawa semangat Bundo Sastri, aroma Samba Lado Tanak yang masih membekas, dan sebuah kesadaran baru: bahwa untuk mencetak sejarah, perjalanan memang tidak selalu mulus, tapi ilmu yang kami dapatkan hari ini adalah bekal paling berharga untuk melangkah maju.

Malam itu, di bawah langit perantauan, kami belajar bahwa kehangatan sejati tidak datang dari cuaca, melainkan dari sebuah pertemuan yang bermakna. ()

Comments (0)
Add Comment