OLEH; Drg HILDA LESTARI M.Kes
Traumatik ulcer atau ulkus traumatik merupakan luka pada lapisan mukosa mulut yang disebabkan oleh cedera fisik (mekanik), suhu (thermal) atau bahan kimia. Hal ini sering muncul di lidah pipi atau bibir tampak seperti cekungan putih kekuningan dengan pinggiran merah, terasa nyeri dan umumnya sembuh sendiri setelah penyebabnya hilang. Namun penting untuk membedakannya dari kondisi serius seperti kanker mulut. Jadi evaluasi medis diperlukan jika tidak sembuh.
Menghilangkan penyebab adalah kunci utama penyembuhan, misalnya jika penyebabnya adalah gigi palsu maka sesuaikan gigi palsu dengan kondisi jaringan sekitarnya. Jika penyebabnya adalah gigi yang patah atau karies, haluskan tepi gigi yang tajam atau perbaiki alat orthodonti, apabila penyebabnya adalah pemakaian alat orthodonti.
Jaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi perlahan dan benar, serta berkumur dengan obat kumur antiseptik. Pada kasus tertentu dokter gigi mungkin akan meresepkan gel atau obat kumur khusus untuk meredakan nyeri dan membantu penyembuhan.
Evaluasi medis akan dilakukan jika luka tidak membaik dalam beerapa minggu (biasanya 10 hari hingga 2 minggu), bertambah besar atau tampak tidak biasa , segera periksakan ke dokter gigi atau dokter mulut untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan (kanker mulut).
Keluhan utama dari traumatic ulcer adalah psien datang dengan keluhan adanya sariawan pada bibir bawah bagian dalam. Terdapat lesi ulser single berwarna putih kekuningan dengan tepi kemerahan dengan ukuran 1×2 mm tepi ireguler di mukosa labial bawah
Secara Etiologi, traumatic ulcer merupakan trauma fisik pada mukosa mulut, seperti gigitan, iritasi prostesis, atau benda tajam.Dari faktor Predisposisi merupakan trauma lokal, kebiasaan buruk (menggigit kuku atau pensil), penggunaan prostesis gigi yang tidak pas.
Jika dilihat dari tampilan Klinis dan gejala, Ulserasi dangkal berbentuk sesuai penyebab trauma. Permukaan tertutup eksudat putih kekuningan. Dikelilingi haloerythematous. Tingkat nyeri bervariasi. Apabila dilihat dari gejala, bakal terasa nyeri lokal, terutama saat kontak dengan makanan pedas atau asam.
Lokasi biasa traumatic ulcer berada di mukosa labial, mukosa bukal, lateral lidah dan mukosa lain yang berkontak dengan gigi.
Perawatan traumatic ulcer bisa dilakukan secara kausatif : Menghilangkan penyebab trauma serta secara simptomatik : nemakai antiseptik kumur (chlorhexidin glukonat 0,2% ) jika ukuran lesi kecil, jika ukuran lesi besar bisa digerí antiinflamasi topikal (triamcinolone acetonide 0,1%)
Ada sejumlah langkah perawatan yang dilakukan dokter gigi untuk menyembuhkan pasien. Pertama yakni memeriksa identitas pasien untuk didata untuk menentukan rencana perawatan. Setelah itu dokter mendengar keluhan utama (chief complaint) yang dirasakan pasien. Kemudian dokter mendengarkan riwayat perjalanan penyakit (present illness) pasien, supaya relevan dengan keluhan utama pasien.
Langkah berikutnya, dokter gigi bisa melakukan Past Dental History (PDH) atau riwayat dental yang berisi tentang ringkasan dari riwayat penyakit gigi yang pernah diderita dan perawatan yang pernah dilakukan, serta kebiasaan harian pasien yang berhubungan dengan rongga mulut. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan gambaran tentang rincian dan efektivitas perawatan sebelumnya, sehingga kita bisa menentukan untuk melanjutkan perawatan atau perlu membuat rencana perawatan baru untuk keluhan pasien.
Dokter juga bisa mengecek Past Medical History (PMH) atau riwayat medis berisi informasi mengenai riwayat penyakit sistemik yang pernah atau sedang diderita pasien. Mendapatkan riwayat kesehatan pasien sangat penting karena dapat menilai status kesehatan pasien, menegakkan diagnosis pasien dengan lebih akurat, karena mungkin saja penyakit sistemik pasien bermanifestasi di rongga mulut, dan juga dapat memfasilitasi perawatan yang lebih optimal serta tidak mengganggu jalannya perawatan sistemik pasien.
Terakhir baru dokter melakukan Diagnosis (Assessment). Diagnosis akhir biasanya mengidentifikasi diagnosis untuk keluhan utama pasien terlebih dahulu, dengan diagnosis tambahan dari masalah bersamaan. Kondisi yang didiagnosis sebelumnya yang tetap sebagai masalah aktual atau potensial juga disertakan, dengan komentar berdasarkan ‘riwayat’ atau ‘diagnosis sebelumnya’.
Sebelum menegakkan diagnosis akhir di daerah orofasial, profesional perawatan kesehatan mulut sering kali perlu merumuskan diagnosis banding berdasarkan riwayat dan temuan pemeriksaan fisik.
Gangguan yang termasuk dalam diagnosis banding akan menentukan tes laboratorium, seperti biopsi, tes darah, atau radiologi, yang diperlukan untuk mencapai diagnosis akhir.
Kecepatan dan akurasi diagnosis atau serangkaian diagnosis dapat dicapai tergantung pada riwayat dan data pemeriksaan yang telah dikumpulkan dan pada pengetahuan dan kemampuan klinisi untuk mencocokkan data klinis ini dengan proses penyakit yang dicurigai.
Setelah melakukan serangkaian pengecekan, barumah dokter gigi melakukan perawatan. Seperti Perawatan Farmakologis, meliputi konsultasi medis/pemberian medikasi sesuai dengan diagnosis definitif. Ada juga Perawatan Non Farmakologis, meliputi pemberian rencana prosedur diagnostik tambahan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis definitif dan edukasi pasien (DHE).(***)