Take a fresh look at your lifestyle.

Kaba Catuih Ambuih: Ketika FOMO Mengalahkan Akal Sehat

Oleh: Muhammad Ishak SH, MH, CRBC, CRBD

0 48

Padang, majalahintrust.com – Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, masyarakat hari ini menghadapi satu tekanan psikologis yang kian kuat  takut tertinggal. Fenomena ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), yakni sebuah kondisi ketika seseorang terdorong mengambil keputusan bukan karena pertimbangan rasional, melainkan karena kecemasan sosial takut kalah cepat, takut berbeda, dan takut dianggap gagal.

Dalam konteks ekonomi dan bisnis, FOMO menjelma menjadi pintu masuk empuk bagi berbagai skema investasi bermasalah. Narasinya nyaris selalu sama dan berulang kesempatan emas yang tidak datang dua kali, janji keuntungan jangka panjang tanpa data yang memadai, serta tekanan emosional agar keputusan diambil secepat mungkin.

“Kalau tidak sekarang, Anda akan tertinggal.”

“Orang lain sudah untung besar ”

“Kesempatan ini terbatas.”

Kalimat-kalimat tersebut bukan sekadar promosi, melainkan alat psikologis yang sengaja dirancang untuk menyingkirkan akal sehat. Dalam situasi seperti itu, masyarakat sering kali abai pada hal-hal mendasar legalitas usaha, kelengkapan informasi, serta manajemen risiko.

Ilusi Bisnis Cepat Kaya

Fenomena ini diperparah oleh narasi populer yang mereduksi dunia bisnis menjadi jalan pintas menuju kekayaan. Ungkapan seperti “manusia boleh lahir miskin, tapi tidak boleh mati miskin” atau “tidak perlu banting tulang, cukup biarkan uang bekerja” terdengar inspiratif, tetapi sering kali dipakai tanpa konteks dan tanggung jawab.

Bisnis, investasi, saham, dan properti sejatinya adalah aktivitas ekonomi yang sah dan penting. Namun masalah muncul ketika sektor-sektor tersebut dikemas oleh oknum tertentu menjadi ilusi kekayaan instan. Data digantikan testimoni. Analisis digeser oleh cerita sukses personal. Risiko dianggap sekadar formalitas.

Dalam banyak kasus, promosi ini dibarengi dengan berbagai kegiatan yang tampak edukatif forum diskusi, focus group discussion, pelatihan investasi, hingga seminar motivasi. Sayangnya, tidak sedikit dari kegiatan tersebut lebih berfungsi sebagai alat propaganda ketimbang ruang pembelajaran yang objektif.

Lebih mengkhawatirkan, sebagian pemberi pelatihan atau fasilitator tidak memiliki kompetensi dan sertifikasi yang memadai. Mereka tidak memikul tanggung jawab moral maupun etika atas keputusan finansial peserta. Ketika terjadi kerugian, dalih yang kerap muncul terdengar ringan “Kami tidak memaksa, hanya memberikan alternatif, berbagi pengalaman , dalam dunia bisnis keputusan cepat itu penting, untung dan rugi itu natural dalam bisnis.”

Fleksing dan Manipulasi Emosi

Dalam skema ini, gaya hidup menjadi alat persuasi yang ampuh. Mobil mewah, rumah besar, jam tangan mahal, hingga liburan ke destinasi elit dipamerkan secara terbuka. Fleksing bukan lagi ekspresi personal, melainkan strategi komunikasi.

Pesan yang ingin disampaikan implisit namun kuat, “Saya sudah sampai. Kalau Anda mengikuti saya, Anda juga bisa.” Padahal, yang tidak pernah dijelaskan adalah proses, risiko, bahkan kemungkinan kegagalan.

Pola semacam ini bukan hal baru. Ia berulang dari tahun ke tahun, bahkan kerap muncul kembali dalam siklus tertentu dengan wajah dan nama produk yang berbeda, tetapi dengan struktur manipulasi yang sama.

Mengapa Penipuan Investasi Terus Terjadi?

Ada beberapa faktor utama yang membuat pola penipuan dan propaganda kaya cepat terus berulang.

Pertama, manusia cenderung percaya pada hasil, bukan proses. Testimoni visual lebih meyakinkan daripada penjelasan teknis yang rumit.

Kedua, budaya instan dan glorifikasi kekayaan menciptakan tekanan sosial bahwa sukses harus terlihat cepat.

Ketiga, literasi hukum dan keuangan yang masih rendah membuat masyarakat rentan terhadap informasi menyesatkan.

Efek ikut-ikutan juga berperan besar

Ketika orang lain tampak berhasil, muncul ilusi bahwa semua orang memiliki peluang dan kapasitas yang sama. Padahal, setiap individu memiliki latar belakang, pengetahuan, dan toleransi risiko yang berbeda.

Dimensi Hukum dan Potensi TPPU

Dalam banyak kasus, penipuan investasi tidak berhenti pada kerugian korban. Ia kerap beririsan dengan tindak pidana lain, seperti penipuan, penggelapan, hingga penyampaian informasi palsu. Bahkan, dalam kondisi tertentu, dapat mengandung unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Hal ini terjadi ketika dana hasil penipuan dialihkan ke berbagai aset properti, kendaraan, atau usaha lain untuk menyamarkan asal-usulnya. Dengan demikian, persoalan ini bukan semata konflik perdata, melainkan ancaman serius terhadap sistem keuangan dan kepercayaan publik.

Kekayaan dan Kebahagiaan Sebuah Kekeliruan Kolektif

Di tengah gempuran narasi kaya cepat, masyarakat seolah digiring pada satu kesimpulan dangkal banyak uang berarti hidup bahagia. Pandangan ini problematis.

Psikolog Viktor Frankl, tokoh psikologi eksistensial menegaskan bahwa kebahagiaan bukan hasil langsung dari pengejaran materi, melainkan dari makna hidup. Manusia yang menggantungkan kebahagiaannya pada uang dan status akan rapuh ketika keduanya goyah.

Hidup yang baik bukan semata hidup dengan saldo terbesar, melainkan hidup yang selaras dengan kemampuan, nilai, dan rasa syukur. Narasi yang menakut-nakuti bahwa tanpa kekayaan seseorang akan gagal seumur hidup adalah bentuk kekerasan simbolik yang halus, tetapi merusak.

Mengapa Kekayaan Instan Jarang Bertahan?

Sejarah sosial dan ekonomi menunjukkan bahwa kekayaan yang diperoleh secara instan jarang bertahan lama, apalagi lintas generasi. Tanpa pondasi pengetahuan, disiplin, dan karakter, kekayaan menjadi rapuh menghadapi krisis.

Ibarat bangunan tanpa fondasi, ia tampak megah dari luar, tetapi mudah runtuh ketika diterpa badai. Tidak mengherankan jika banyak kisah “orang kaya mendadak” berakhir dengan kejatuhan yang sama cepatnya.

Belajar agar Tidak Mudah Ditipu

Sebagai pelajaran kolektif, ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami agar masyarakat tidak mudah terjebak.

Pertama, verifikasi legalitas adalah keharusan, bukan formalitas.

Kedua, pahami skema bisnis, bukan sekadar janji keuntungan.

Ketiga, kenali tanda bahaya psikologis, seperti tekanan waktu dan janji tanpa risiko.

Keempat, jangan terpesona oleh gaya hidup yang dipamerkan.

Kelima, tingkatkan literasi hukum dan keuangan.

Dan yang tak kalah penting, sadari bahwa tidak semua orang cocok dengan semua jenis bisnis.

Dalam dunia yang dipenuhi propaganda dan ilusi, berpikir kritis bukan sikap pesimis, melainkan bentuk tanggung jawab. Tidak semua peluang harus diambil, dan tidak semua yang tampak menguntungkan benar-benar sehat.

Kebijaksanaan bukan soal seberapa cepat kita melangkah, melainkan seberapa dalam kita memahami risiko di setiap keputusan. Sebab, masa depan yang kokoh tidak dibangun dari ketakutan tertinggal, melainkan dari kesadaran dan kehati-hatian. Padang, Januari 2026

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.