Take a fresh look at your lifestyle.

Menghidupkan Semangat Literasi di Kairo: Cairo International Book Fair

Oleh : Sastri Bakry

0 24

Padang, majalahintrust.com – Saya merasa tersanjung disambut Pak Havis, protokol KBRI persis di ujung belalai pesawat. Tentu saja jalur cepat saya peroleh. Tak perlu antri lama. Kemudian tak lama berjalan, panitia yang bertuliskan nama saya menunggu dengan senyuman.
“Selamat datang Ibu”

Wah luar biasa dua orang Mesir menjemput dengan instansi berbeda, tetapi bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya, Pak Havis menyerahkan saya ke tim panitia dan kami langsung menuju hotel.

Hari pertama tiba di Kairo saya beristirahat panjang di hotel yang unik, nyaman dan indah. Saya memulihkan stamina karena perjalanan belasan jam dengan transit di Istanbul, Turkey.
Maklum usia sudah tidak muda lagi.

Esoknya pukul 10 pagi saya dijemput panitia. Saya langsung menuju ke pavilion Indonesia untuk memberikan buku Denny JA, pemenang Sastra Inovasi BRICS. Saya ingin orang Mesir terutama orang Indonesia di Mesir melihat karya pemenang sastra pertama BRICS itu. Dengan suka cita pejabat kementerian Agama yang bertugas, menerima dan langsung memajang di tempat strategis rak- rak buku.

Saya kemudian mulai menjelajahi Cairo International Book Fair (CIBF) didampingi tenaga ahli kementerian Agama RI. MasyaAllah luasnya bukan main. Lebih 80.000 meter persegi, terletak di Egypt International Exhibitions Center di New Cairo, Mesir. Pameran buku ini merupakan salah satu yang terbesar dan tertua di Timur Tengah, menarik lebih dari 2 juta pengunjung setiap tahun. Mungkin jika saya mengitari pameran buku yang terdiri dari 6 Hall itu seminggu nggak akan cukup, jika saya dengan sungguh- sungguh menikmatinya. Untung saya hanya berkeliling dan melihat sekilas.

Pameran ini diadakan setiap tahun pada minggu terakhir Januari dan berlangsung selama 12 hari. Tahun ini, pameran buku ke-57 diadakan dari 21 Januari hingga 5 Februari 2026. Di hari keenam, staf kemenag yang menjaga stand Indonesia mengatakan pengunjung yang terdata sudah mencapai satu juta. Berarti bisa meningkat lebih banyak dari tahun sebelumnya. Waw…

Apa yang membuat saya takjub pameran ini? Saya mengamati , setiap orang yang keluar dari pameran buku tak ada yang melenggang. Mereka datang betul-betul dengan niat membeli buku. Bahkan ada yang membeli buku pakai koper.

Pikiran saya langsung ke Indonesia. Berulang kali saya hadir dalam beragam pameran buku, nasional maupun internasional, kebanyakan banyak melihat- lihat saja. Mungkin itu juga yang membuat pameran buku banyak yang tak bertahan lama.

Beda dengan Kairo. Setiap tahun, kota Kairo menjadi saksi bisu perayaan literasi terbesar di dunia Arab. CIBF adalah sebuah acara yang tidak boleh dilewatkan oleh pecinta buku. Pameran buku internasional ini menampilkan berbagai jenis buku, mulai dari fiksi, non-fiksi, buku anak-anak, hingga buku akademis, dan dihadiri oleh penulis, penerbit, penjual buku, dan pembaca dari seluruh dunia.

Acara ini bukan hanya sebuah pameran buku biasa, tetapi juga sebuah platform bagi penulis dan penerbit untuk mempromosikan karya mereka. CIBF adalah pameran buku terbesar kedua di dunia setelah Frankfurt Book Fair . Ia merupakan kesempatan emas bagi pecinta buku untuk menemukan buku-buku baru dan berinteraksi dengan penulis dan penerbit.

Agaknya tujuan utama acara ini untuk mempromosikan budaya membaca dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan menulis sangat tercapai. Bahkan beragam kultur negeri Timur Tengah bisa kita nikmati. Dengan demikian, acara ini tidak hanya bermanfaat bagi pecinta buku, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Pengunjung dapat membeli tiket masuk secara online atau di tempat acara, dengan harga tiket yang relatif murah. Saya sedikit terkejut ketika Anca, Ketua KMM, organisasi mahasiswa minang Mesir mengatakan membayar 5 pound Mesir untuk karcis masuk, berarti tidak sampai dua ribu rupiah. Tampaknya bukan uang targetnya tetapi jumlah pengunjung yang banyak dan semakin banyak masyarakat terlibat.

CIBF juga menyediakan berbagai fasilitas, termasuk restoran, kafe, dan area bermain anak-anak, sehingga acara ini dapat dinikmati oleh semua kalangan. Saya menikmati suasana makan siang bersama Mawardi, Menteri koordinator bidang pendidikan, PPMI Mesir. Ia seorang anak muda yang cerdas dan berpengetahuan dengan bahasa Arab yang mumpuni. Saya jadi minder berdialog dengannya.

Saya melihat sekeliling, acara ini bukan hanya sebuah pameran buku dan ilmu saja, tetapi juga sebuah acara keluarga yang dapat dinikmati bersama.

Dalam era digital ini, Cairo International Book Fair adalah sebuah pengingat bahwa buku masih memiliki tempat yang istimewa di hati manusia. Sebuah pengingat dan kesempatan bagi kita untuk menghidupkan semangat literasi dan mempromosikan budaya membaca dan menulis dari banyak negara yang mengikutinya terutama negara Timur Tengah.

**Sastri Bakry, Sastrawan Indonesia, Penulis, Ketua SatuPena Sumbar, Koordinator Nasional Jaringan Sastra BRICS Indonesia ( Indonesia BRICS Literature Network National Coordinator) dan Ketua IMLF.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.