Take a fresh look at your lifestyle.

Kasus Penembakkan DPO Judi di Solok Selatan, Keluarga Korban Meminta Keadilan

12.676

Padang — Kuasa hukum keluarga korban Deki Susanto (almarhum), yang diduga ditembak oleh anggota kepolisian resort Solok Selatan (Sosel) pada 27 Januari 2021 lalu, di kediaman angkat bicara. Pasalnya, kuasa hukum korban menyanggah pemberitaan yang selama ini beredar.

Menurut tim kuasa hukum keluarga korban, yakni Guntur Abdurrahman, Fanny Fauzi, Didi Cahyadi bersama tim, mengatakan bahwa pelaku tiba di rumah korban dengan dua unit mobil lalu mencari Deki Susanto (korban).

“Waktu itu, istri korban berada di rumah dan bertemu dengan pelaku. Pelaku tidak menggunakan seragam. Tidak hanya itu, pelaku pun tidak memperlihatkan surat tugas, dan juga membawa senajata api. Tiba-tiba pelaku dan beberapa orang lainnya, masuk ke rumah, menggeledah dan mencari korban. Saat itu korban ada di dapur. Pelaku pun menyergap korban,” kata
Guntur Abdurrahman, saat memberikan konfrensi persnya, di hadapan awak media, Jumat (29/1).

Guntur yang saat itu didampingi Ipar dari korban Deki Susanto
menjelaskan, saat itu Almarhum Deki Susanto ditodong dengan senjata api oleh anggota polisi berpakaian sipil. Korban takut dan berusaha lari bersama istri dan anaknya melalui pintu belakang.

“Saat korban hendak melangkah, polisi menembak korban di bagian kepala bagian belakang korban. Korban ditembak di hadapan istri dan anaknya. Korban tergeletak dan diduga tidak bernyawa, membuat istri korban menjerit. Kemudian pelaku langsung menembakkan tembakan ke atas sebanyak empat kali,” tambah Guntur.

Ditambahkannya, di tubuh pelaku tidak terlihat adanya bagian tubuh yang terluka seperti dalam pemberitaan selama ini. Karena pada kejadian para pelaku tampak sehat-sehat.

“Saat korban diangkat oleh polisi, diduga korban sudah tidak lagi bernyawa,” ujarnya.

Lebih lanjut disebutkan, bila dibutuhkan pihak keluarga akan melakukan otopsi terhadap korban.

“Dengan kejadian ini kelurga korban tidak terima dan minta keadilan yang seadil-adilnya, karena sudah masuk dalam ranah pidana. Korban ditembak di bagian kepala bagian belakang dan ini masuk dalam pasal 338 KUHP tentang pembunuhan serta melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Tentunya kami akan melaporkan ke Presiden, Kapolri, LPSK, Menkopolhukam, dan Komnas HAM,” tegasnya.

Tak hanya itu, kuasa hukum korban membeberkan, korban ditetapkan sebagai tersangka dan ditetapkan sebagai Daftar Pencarian orang (DPO), dalam kasus judi. “Namun selama ini tidak pernah dilakukan pemanggilan. Pihak keluarga tahunya DPO hanya pada waktu penembakan,” terangnya.

Sementara itu Benni, salah satu keluarga korban menuturkan, korban adalah tulang punggung keluarga, memiliki istri dan anak masih kecil. “Korban berkerja di pabrik supreme yang terletak di Solok Selatan. Jadi kami minta keadilan,” ungkap Benni.

Dia mengatakan hingga saat ini, belum ada upaya perdamaian dari pihak kepolisian. “Kami melalui kuasa hukum, akan melakukan berbagai upaya sehingga masalah ini secepatnya selesai,” imbuhnya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Sumatera Barat (Sumbar) Kombes Pol Satake Bayu, saat dihubungi mengatakan, tim Propam dan Itwasda sudah diturunkan untuk mengecek proses penangkapan sesuai prosedur atau tidak.

“Saat ini tim Propam sudah turun untuk memeriksa terkait prosedur penembakan yang menyebabkan kematian terhadap tersangka dengan inisial DG. Gunanya untuk mengecek apakah penangkapan sesuai prosedur atau tidak,” kata Kombes Pol Stake Bayu. (Kld)

Tinggalkan pesanan