Take a fresh look at your lifestyle.

Meningkatkan Mitigasi Bencana di Sumatera Barat

636

Oleh : Nasrul Abit

Setiap 30 September, masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) memperingati terjadinya gempa besar pada 30 September 2009. Gempa itu menelan banyak korban jiwa dan kerugian material, terutama di daerah yang paling terdampak, yakni Padang dan Padang Pariaman. Saya berharap kita tidak hanya memperingati kejadian itu sebagai peringatan seremonial tahunan dan mengenang para korban, tetapi juga sebagai momentum bagi kita untuk mewaspadai bencana.

Kita yang tinggal di Sumbar harus selalu waspada terhadap bencana karena kita hidup di daerah yang rawan bencana. Bencana yang mengancam kita, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir (bandang), longsor, angin puting beliung, letusan gunung berapi, kebakaran lahan, abrasi pantai, dan yang terbaru likuefaksi.

Sebagian besar bencana itu tidak bisa diprediksi kapan terjadi dan tidak bisa dicegah. Bencana yang bisa dicegah, antara lain, banjir dan abrasi pantai. Banjir bandang dapat dicegah dengan melestarikan hutan di hulu sungai. Banjir di kawasan permukiman penduduk bisa dicegah dengan tidak membuang sampah sembarangan dan membersihkan saluran pembuangan air. Namun, kadang-kadang banjir juga tidak bisa dicegah apabila hujan turun deras selama beberapa hari. Sementara itu, abrasi pantai bisa dicegah dengan membangun batu pemecah ombak dan memasang batu grip di kawasan yang rawan abrasi.

Karena pada umumnya bencana tidak bisa diprediksi dan dicegah terjadi, yang bisa kita lakukan adalah bersiap menghadapi bencana untuk mencegah terjadinya korban jiwa atau setidaknya mengurangi terjadinya korban jiwa dan kerugian material. Dalam dunia kebencanaan, kegiatan seperti itu disebut mitigasi bencana. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik lewat pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Pemprov Sumbar bersama pemerintah kabupaten/kota dan pihak terkait telah sering melakukan mitigasi bencana, misalnya menyosialisasikan kepada masyarakat cara menghadapi bencana, melakukan pendidikan dan pelatihan penanganan bencana, memfasilitasi pembentukan organisasi dan lembaga penanggulangan bencana berbasis masyarakat, membentuk desa dan kelurahan tangguh bencana, dan membuat relawan kelompok siaga bencana di desa dan kelurahan serta sekolah.

Ancaman Bencana Terbesar

Baru-baru ini masyarakat di Pulau Jawa dihebohkan oleh riset ITB tentang potensi gempa berkekuatan 9,1 SR dan tsunami setinggi 20 meter. Kita di Sumbar juga mengalami ancaman yang sama. Lima profesor ahli gempa dari Jepang memprediksi di Kabupaten Kepulauan Mentawai akan terjadi gempa berkekuatan 8,9 SR. Menurut para pakar Jepang tersebut, jika gempa dahsyat itu terjadi, akan terjadi tsunami yang tingginya mencapai 12 meter. Informasi dari ahli itu bukan untuk mempertakut kita, tetapi menyuruh kita untuk waspada. Selain waspada, kita harus bersiap menghadapinya. Caranya adalah melakukan mitigasi bencana dan perencanaan yang matang untuk menyelamatkan masyarakat.

Di Sumbar terdapat tujuh daerah yang berada di pesisir pantai, yakni Pesisir Selatan, Mentawai, Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat. Ada sekitar 1 juta jiwa penduduk yang tinggal di kawasan sepanjang pantai pesisir tersebut. Daerah-daerah inilah yang terancam tsunami. Karena itu, daerah-daerah ini harus mendapatkan perhatian khusus dalam mitigasi bencana.

Untuk meminimalkan risiko bencana tsunami di tujuh daerah tesebut, Pemprov Sumbar bersama pemerintah daerah setempat dan pihak terkait sudah melakukan mitigasi bencana, seperti melakukan pemetaan geografis dengan cara mengukur ketinggian daerah. membangun infrastruktur penunjang mulai dari membuat peta evakuasi, menetapkan lokasi evakuasi, dan membangun dan memperbaiki ruas jalan yang mendukung akses evakuasi. Kami juga telah melakukan sosialisasi mitigasi bencana, terutama di sekolah, perkantoran, instansi pemerintahan, perhotelan, dan di permukiman masyarakat di pinggir pantai. Kami juga telah melakukan simulasi menghadapi gempa dan tsunami di sekolah-sekolah. Hal itu penting dilakukan agar anak sekolah mengetahui cara menyelamatkan diri, dan yang lebih penting agar anak tidak panik saat bencana terjadi.

Selain itu, kami membangun shelter sebagai sarana evakuasi jika terjadi tsunami. Di Padang, hampir setiap bangunan di pinggir pantai ada shelter, seperti di kantor Gubernur Sumbar, Mapolda Sumbar, DPRD Sumbar, dan SMAN 1 Padang.

Di sepanjang pantai di Sumbar juga dibangun puluhan ribu pohon di pinggir pantai sebagai benteng vegetasi untuk mengurangi terjangan tsuanami. Salah satu pohon yang ditanam itu adalah pohon cemara udang. Pohon itu dinilai cukup efektif menahan efek gelombang tsunami, seperti yang terjadi di Phuket, Thailand, pada 2004. Pohon lain yang ditanam adalah pohon bakau untuk menahan laju tsunami dan mencegah terjadinya abrasi. Kita membutuhkan lebih banyak pohon lagi di pinggir pantai. Karena itu, penanaman pohon harus kita lanjutkan. Untuk menahan laju gelombang tsunami, kita juga memerlukan batu-batu besar untuk pemecah ombak.

Sementara itu, untuk mengetahu datangnya tsunami, pada tahun 2019 BMKG menempatkan 50 unit earthquake early warning system (EEWS): 10 unit di sekitar Kepulauan Mentawai dan 40 unit di di Pesisir Selatan, Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Agam, dan Pasaman Barat. Diharapkan penempatan EEWS ini dapat meningkatkan dan mendukung upaya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi tsunami. Saya berharap masyarakat menjaga EEWS itu sehingga alat itu berfungsi ketika gempa besar terjadi untuk menginformasikan kepada kita bahwa tsunami akan muncul.

Sebagai orang yang berasal dari Pesisir Selatan, daerah yang terancam tsunami, saya memang memiliki perhatian lebih terhadap mitigasi bencana, terutama gempa dan tsunami. Mengapa begitu? Dengan melihat ganasnya tsunami Aceh 2004, saya tak tega membayangkan betapa banyaknya korban jiwa yang akan jatuh di pesisir Sumbar jika kita tidak bersiap menghadapi tsunami.

Karena itu, sebagai Wakil Gubernur Sumbar, saya pergi ke Sendai, Jepang, pada Oktober 2019 untuk belajar tentang tata kelola penanganan bencana gempa bumi dan tsunami untuk memperkuat mitigasi bencana di Sumbar. Sumbar punya kemiripan dengan Jepang dari segi potensi bencana, yaitu gempa dan tsunami. Karena itulah, kita perlu belajar ke sana untuk memperkuat kesiapsiagaan di Sumbar.

Oleh sebab itu pula, sebagai calon Gubernur Sumbar, saya bersama calon Wakil Gubernur Sumbar, Pak Indra Catri, menjadikan mitigasi bencana sebagai salah satu program unggulan. Jika diberi aman untuk memimpin Sumbar, kami akan meningkatkan mitigasi bencana agar masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyelamatkan diri dari bencana, terutama gempa dan tsunami.

Untuk melakukan peningkatan mitigasi bencana itu, kami tentu saja membutuhkan dukungan masyarakat Sumbar. Tanpa dukungan masyarakat, program yang kami jalankan tidak akan mencapai hasil yang bagus. Kami percaya masyarakat Sumbar mendukung program kami karena program ini untuk keselamatan masyarakat. Mari kita bersama-sama mendukung program ini untuk menjadikan masyarakat Sumbar yang sadar terhadap bencana.(*)

(Sudah Diterbitkan Juga di Haluan)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.