Take a fresh look at your lifestyle.

Dihadapan Ahli Wakil Presiden RI : Maryadi Utama Beberkan Inovasi Baru Pembangunan Sidan

711

Bali – Pekerjaan infrastruktur Bendungan Sidan Provinsi Bali terus menjadi perhatian Pemerintah Pusat. Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida itu terus dipacu pembangunannya.

Kali ini Staf Khusus Wakil Presiden Dr Sukriansyah S Latief memantau langsung pekerjaan bendungan, yang merupakan Program Nawa Cita Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan KH Ma’aruf Amin.

Kepala BWS Bali Penida Maryadi Utama ST.MSi dihadapan Stafsus Wapres RI memaparkan, progres Bendungan Sidan sudah mencapai 50,08% per Maret 2021.

Inovasi baru dari pembangunan Bendungan Sidan dibeberkan Maryadi adalah, penggantian core inti clay menjadi core inti aspal. Hal ini akan menjadi inovasi pertama pada pembangunan bendungan di seluruh Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Inovasi lainnya adalah dengan mewujudkan bangunan pelimpah yang dirancang membentuk terowongan, membuatnya berbeda dari bendungan kebanyakan.

Sebelumnya urai Maryadi, berkat hasil kerja keras seluruh pihak yang terlibat, pekerjaan breakthrough Bendungan Sidan telah tembus 453 meter dalam waktu 11 bulan. terowongan pengelak ini dibangun dengan diameter 5 meter yang berfungsi untuk pengendali banjir dari debit masuk sebesar 405 m/detik menjadi 138 m/detik debit keluar.

“Alhamdulillah di tengah pandemi covid 19 dengan tetap semangat dan tetap jaga kesehatan, pekerjaan kita berhasil menembus terowongan pengelak ini sepanjang 453 meter. Atas kerja keras yang telah dilakukan, kami mengucapkan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak. Setelah ini kita melaksanakan pembetonan terowongan pengelak tersebut,”ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Lebih lanjut Maryadi menyampaikan, Bendungan Sidan bermanfaat untuk pelayanan air baku di Kawasan Sarbagita (Kota Denpasar, Kab.Badung Gianyar, dan Tabanan) dengan pelayanan sebesar 1.750liter/detik.

Pembangunan Bendungan ini diharapkan Maryadi, dapat mempengaruhi giatnya kegiatan pariwisata dan perekonomian masyarakat disekitarnya. Karena dengan adanya keberadaan bendungan ini, bisa memperpendek jarak tempuh antara daerah Pariwisata Kabupaten Gianyar ke daerah Pariwisata Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan.

Staf Khusus Wakil Presiden Sukriansyah S Latief menyampaikan, kunjungan kerja kali ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana progres pelaksanaan pembangunan proyek nasional bendungan Sidan Bali, sekaligus memastikan bahwa pekerjaan berjalan dengan lancar.

Selain itu, pertemuan dengan jajaran Pemprov Bali serta BWS Bali Penida merupakan bagian untuk mempercepat penyelesaian pembangunan bendungan tersebut.

Ia mengharapkan, kedepannya pembangunan Bendungan Sidan ini dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target. Mengingat Bendungan Sidan merupakan salah satu 65 Bendungan yang menjadi Proyek Strategis Nasional.

“Semoga bendungan ini bisa cepat diselesaikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Bali, khususnya di daerah pembangunan bendungan,” ujar Sukriansyah

Seperti diketahui, Bendungan Sidan terletak di lokasi antara Desa Belok Sidan Kabupaten Badung dan Desa Buahan Kaja Kabupaten Gianyar, sekitar 56 km dari kota Denpasar. Adapun genangan dari bendungan Sidan meliputi Desa Bunutin, Langgahan, dan Mengani Kabupaten Bangli.

Staf Khusus Wapres RI Berbincang dengan Gubernur Bali dan Kepala BWS Bali Penida

Bendungan Sidan akan memiliki berbagai manfaat seperti penyediaan air baku dengan kapasitas 1,75 meter kubik per detik, sebagai pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) sebesar 0,65 megawatt (MW), objek pariwisata, dan lahan konservasi.

Bendungan Sidan adalah bendungan tipe Zonal dengan Inti Tegak memiliki Panjang puncak 185 meter serta lebar puncak 8,5 meter yang sumber airnya berasal dari Sungai Ayung. Bendungan yang ditargetkan selesai tahun 2022 ini memberikan manfaat penyediaan air baku sebesar 1.750 liter/detik dengan kapasitas 3,8 juta meter kubik.

Pembangunannya dikerjakan oleh Konsorsium PT. Brantas Abipraya (Persero) – PT. Universal Suryaprima dengan kontrak senilai Rp 809 miliar. Bendungan yang mulai dibangun Oktober 2018 tersebut membutuhkan total lahan sebesar 82,73 hektare yang terdiri dari 168 bidang. (ridho)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.